SELATPANJANG, SIDIK24JAM – Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn.) H. Asmar memimpin upacara peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 di Halaman Kantor Bupati, Senin (14/9/2026).
Upacara dihadiri Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Kajari, Danlanal Dumai/Dan Pos TNI AL Selatpanjang, Dandim 0303 Bengkalis/Danramil 02 Tebing Tinggi, Kepala Kantor Kemenag, Sekda, Ketua PN dan PA Selatpanjang, serta seluruh pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Meranti.
Dalam amanatnya, Asmar menyampaikan Gerakan Pramuka selama 65 tahun telah berperan besar dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia yang beriman, bertakwa, disiplin, bertanggung jawab, dan cinta tanah air.
Gerakan Pramuka telah berperan membentuk generasi muda Indonesia yang beriman, bertakwa, berkarakter, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki rasa cinta tanah air yang kokoh dan kuat,” ujar Asmar.
Bupati menekankan tema Hari Pramuka ke-65 dan Jambore Nasional ke-12 Tahun 2026 yakni “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan” sangat relevan dengan Asta Cita Pemerintah RI.
Menurutnya, swasembada pangan bukan hanya soal tanam-menanam. Di dalamnya ada pendidikan, keterampilan, teknologi, kewirausahaan, dan kesiapan generasi muda menyelesaikan persoalan nyata di lingkungannya.
“Pendidikan kepramukaan perlu terus diarahkan untuk menumbuhkan budaya produktif dan kecintaan generasi muda terhadap sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Pramuka juga harus peduli lingkungan, memanfaatkan teknologi tepat guna, serta punya semangat kewirausahaan sejak usia muda,” jelasnya.
Asmar juga menyoroti tantangan zaman yang dihadapi generasi muda saat ini. Mulai dari perubahan iklim, perkembangan AI, dinamika geopolitik, ketahanan pangan dan energi, hingga persoalan sosial seperti narkotika, perundungan, hoaks, dan judi online.
“Teknologi memberikan kemampuan yang semakin besar, sedangkan karakter memberikan arah agar kemampuan itu digunakan untuk kebermanfaatan,” tegasnya.
Ia mendorong kegiatan Pramuka tidak berhenti di lapangan, tapi menyentuh persoalan nyata masyarakat. Seperti pengelolaan sampah, efisiensi sumber daya, energi bersih, hingga pengembangan potensi lokal.
Di akhir amanat, Asmar mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi pembinaan Pramuka. Ia optimistis pendidikan kepramukaan dapat melahirkan generasi petani inovator, ilmuwan, teknolog, wirausahawan, hingga pemimpin bangsa yang berkarakter.
“Marilah kita jadikan Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 sebagai momentum untuk memperbarui tekad, memperkuat persatuan, memperluas pengabdian, serta meningkatkan kontribusi nyata Gerakan Pramuka bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Asmar menegaskan, Gerakan Pramuka harus terus menjadi kawah candradimuka pembentukan karakter bangsa dan melahirkan pemimpin masa depan yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan. ..(ZAMRI)
RANGSANG, DETIK24JAM – Musibah boleh datang tanpa diduga, tetapi persaudaraan tidak semestinya padam. Semangat itulah yang terlihat ketika keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Kepulauan Meranti hadir menguatkan salah seorang Sahabat Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menjadi korban kebakaran di Desa Dwi Tunggal, Kecamatan Rangsang.
Rumah milik Alif , salah seorang Sahabat Banser Kecamatan Rangsang, terbakar pada Sabtu (22/8/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan keluarga korban kehilangan sejumlah harta benda dan harus kembali menata kehidupan setelah sebagian tempat tinggal dan barang-barang yang dimiliki dilalap api.
Hampir tiga pekan setelah musibah itu, Sabtu (12/9/2026), jajaran Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Meranti bersama unsur NU hadir langsung ke kediaman korban. Kunjungan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar untuk memastikan seorang sahabat yang sedang diuji tidak merasa berjalan sendirian.
Kunjungan tersebut dihadiri Ky. Muhammad Shodiq, http://S.Pd. , Wakil Ketua PW GP Ansor Riau; Muhammad Taufik, http://M.Pd. , Ketua LDNU Kepulauan Meranti; Fuji Rizqiono, S.E. , Kasatkorcab Banser Kepulauan Meranti; H. Ulya , Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Rangsang; serta jajaran pengurus GP Ansor dan Banser Kepulauan Meranti.
Ketua PC GP Ansor Kepulauan Meranti, Muttaqin, ST , mengatakan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar untuk menyerahkan bantuan, melainkan juga untuk menyambung silaturahmi dan merasakan bersama apa yang sedang dihadapi oleh sahabatnya.
“Beliau adalah sahabat kita. Kita bersilaturahmi dan turut merasakan kesedihan yang beliau alami. Kita yakin ini adalah kersane Gusti Allah ,” ujar Muttaqin.
Menurutnya, kepedulian harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata. “Kami peduli dan akan selalu bersinergi bersama-sama untuk para sahabat, terlebih bagi mereka yang sedang diuji Gusti Allah,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian, PC GP Ansor Kepulauan Meranti menghimpun donasi dari para sahabat Ansor-Banser serta warga Nahdliyin di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Muttaqin juga menyampaikan permohonan maaf karena bantuan tersebut baru dapat disampaikan. Beberapa waktu sebelumnya, jajaran PC GP Ansor Kepulauan Meranti tengah mendampingi para kiai dalam mengikuti agenda Muktamar PBNU di Jombang.
Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kepulauan Meranti, Ky. Muhammad Dalhar , turut memberikan penguatan kepada keluarga korban.
“Setiap kejadian, apa pun itu, semoga Allah mengganti apa yang telah raib dengan yang lebih baik, manfaat, barokah dan maslahat. Apa yang telah hilang dari hidup kita sebagai penghapus dosa dan kesalahan, dikifaratkan dan dihapus dosanya oleh Allah SWT,” tutur KH. Muhammad Dalhar.
Kepedulian keluarga besar NU tersebut diwujudkan melalui bantuan yang berhasil dihimpun. PC GP Ansor Kepulauan Meranti menyerahkan Rp10.950.000, PCNU Kepulauan Meranti Rp4.850.000, dan MWC NU Kecamatan Rangsang Rp9.000.000.
Tidak hanya berupa uang, bantuan juga dilengkapi dengan bingkisan pakaian yang diberikan para sahabat GP Ansor untuk keluarga korban.
Jika dijumlahkan, bantuan dari ketiga unsur tersebut mencapai *Rp24.800.000*. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban sekaligus membantu mereka memenuhi kebutuhan setelah kehilangan sejumlah harta benda akibat kebakaran.
Bagi keluarga korban, bantuan tersebut tentu tidak serta-merta mengembalikan apa yang telah hilang. Namun, lebih dari sekadar nilai materi, kehadiran para sahabat membawa pesan: bahwa ketika seorang sahabat sedang diuji, ia tidak sendirian.
Di tengah rumah yang pernah dilalap api, persaudaraan justru menemukan maknanya. Kepedulian yang hadir dari sesama kader dan warga Nahdliyin menjadi pengingat bahwa semangat ukhuwah bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dirasakan dan diwujudkan…(ZAMRI)
Sidik24jam.com | Aceh Tamiang – Kepedulian terhadap masyarakat tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk yang besar. Terkadang, sebuah uluran tangan sederhana justru menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan.
Hal tersebut ditunjukkan jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Tamiang melalui aksi peduli kasih terhadap seorang warga bernama M. Yusuf (42), asal Stabat, Sumatera Utara, yang tengah berjuang menuju wilayah Lhoksukon, Aceh Utara, untuk menemui keluarganya sekaligus mencari pekerjaan.
Kisah M. Yusuf bermula ketika dirinya bertemu dengan seorang wartawan yang sedang melintas menggunakan sepeda motor untuk pulang ke rumah. Pertemuan tersebut terjadi tepat di depan gerbang masuk Kantor DPRK Aceh Tamiang.
Dengan kondisi serba keterbatasan, M. Yusuf kemudian meminta bantuan kepada wartawan tersebut agar dapat diberikan tumpangan hingga batas perjalanan yang memungkinkan. Setelah itu, ia berencana melanjutkan perjalanan menuju Lhoksukon dengan berjalan kaki.
Kepada wartawan, M. Yusuf menceritakan bahwa dirinya telah menempuh perjalanan dari Stabat hingga Kota Kualasimpang dengan berjalan kaki. Tujuannya adalah menuju Lhoksukon, tempat saudaranya berada, dengan harapan dapat memperoleh pekerjaan dan memperbaiki kehidupannya.
Yang membuat kisah tersebut semakin mengharukan, M. Yusuf mengaku tidak memiliki uang untuk membayar ongkos angkutan umum. Dalam kondisi demikian, ia memilih terus berjalan meskipun jarak yang harus ditempuh masih cukup jauh.
Mendengar cerita tersebut, rasa iba dan kepedulian sosial muncul dari wartawan yang ditemuinya. Tidak ingin membiarkan M. Yusuf terus berjalan kaki dalam kondisi yang serba terbatas, wartawan tersebut kemudian berinisiatif berkoordinasi dengan jajaran Satlantas Polres Aceh Tamiang untuk meminta bantuan.
Koordinasi tersebut mendapat respons positif dari pihak kepolisian. Selanjutnya, wartawan bersama M. Yusuf mendatangi Kantor Satlantas Polres Aceh Tamiang.
Di sana, jajaran Satlantas menunjukkan kepedulian dengan membantu M. Yusuf mendapatkan ongkos perjalanan menggunakan angkutan umum menuju Lhoksukon. Bantuan tersebut diberikan agar M. Yusuf dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih aman dan layak, tanpa harus kembali berjalan kaki menempuh perjalanan yang begitu jauh.
Kasat Lantas Polres Aceh Tamiang AKP Hendra Sukmana, S.H., dalam keterangannya menyampaikan bahwa kepedulian terhadap masyarakat merupakan bagian penting dari kehadiran Polri di tengah masyarakat.
Menurutnya, apa yang dilakukan terhadap M. Yusuf merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan, terutama kepada masyarakat yang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan.
“Ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap masyarakat. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan dan masih dalam kemampuan kita untuk membantu, tentu kita akan berupaya memberikan bantuan,” demikian disampaikan AKP Hendra.
Ketika Seragam Polisi Menjadi Simbol Kehadiran dan Kepedulian
Kisah M. Yusuf memberikan pelajaran bahwa perjalanan hidup seseorang tidak selalu mudah. Di balik langkah kaki yang terus berjalan dari Stabat hingga Kualasimpang, ada harapan besar untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.
Mungkin bagi sebagian orang, sebuah tiket angkutan umum bukanlah sesuatu yang bernilai besar. Namun bagi M. Yusuf, bantuan tersebut memiliki arti yang jauh lebih dalam. Tiket itu bukan sekadar alat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menjadi jembatan kecil menuju harapan baru.
Apa yang dilakukan jajaran Satlantas Polres Aceh Tamiang juga menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak hanya berkaitan dengan pengaturan lalu lintas, penegakan hukum maupun menjaga keamanan. Lebih dari itu, polisi juga hadir sebagai bagian dari masyarakat, mendengar keluhan, melihat kesulitan dan memberikan pertolongan ketika masyarakat membutuhkan.
Di tengah kehidupan yang terkadang membuat manusia sibuk dengan urusannya masing-masing, kisah M. Yusuf mengingatkan kita bahwa sedikit kepedulian dapat menjadi sangat berarti bagi orang lain.
Satu tumpangan, satu komunikasi, satu tiket perjalanan dan satu uluran tangan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seseorang yang sedang berjalan dalam keterbatasan, hal-hal sederhana itu dapat menjadi alasan untuk kembali percaya bahwa masih ada orang yang peduli.
Semoga kepedulian yang ditunjukkan jajaran Satlantas Polres Aceh Tamiang ini tidak berhenti pada satu kisah saja. Semoga semakin banyak tangan yang tergerak untuk membantu, semakin banyak hati yang terketuk untuk peduli, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan bahwa di tengah kesulitan, mereka tidak benar-benar sendirian.
“Karena terkadang, menjadi berarti bagi seseorang tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Cukup dengan hadir, peduli, dan membantu semampu kita”. (KS)
Semangat kemerdekaan masih terasa begitu kental di tengah masyarakat. Dalam suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sekolah TK Raudhatul Athfal (RA) Raja Silang, Kampung Seumantok, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, turut memeriahkannya dengan menggelar berbagai perlombaan yang berlangsung penuh keceriaan.
Kegiatan yang dilaksanakan di halaman sekolah setempat, Sabtu (29/08/2026), tersebut diikuti oleh seluruh murid TK sebagai peserta lomba. Sejak kegiatan dimulai, suasana halaman sekolah tampak semarak dengan sorak-sorai dan gelak tawa anak-anak yang begitu antusias mengikuti setiap perlombaan yang disiapkan pihak sekolah.
Dengan wajah polos dan penuh kegembiraan, para peserta cilik berlomba menunjukkan keberanian, ketangkasan, serta semangat untuk menjadi yang terbaik. Namun, lebih dari sekadar mencari pemenang, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar tentang kebersamaan, sportivitas, keberanian dan arti penting merayakan kemerdekaan sejak usia dini.
Menariknya, kemeriahan HUT RI ke-81 di TK RA Raja Silang tidak hanya menjadi milik anak-anak. Para ibu yang merupakan orang tua murid juga turut ambil bagian sebagai peserta dalam berbagai perlombaan. Kehadiran mereka membuat suasana semakin meriah sekaligus menciptakan momen kebersamaan yang hangat antara pihak sekolah, anak-anak dan keluarga.
Kepala Sekolah TK Raudhatul Athfal (RA) Raja Silang, Mardiah, S.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sengaja dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menanamkan semangat nasionalisme dan nilai-nilai positif kepada anak-anak sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak dapat merasakan suasana kemerdekaan dengan penuh kegembiraan. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar berani tampil, bekerja sama, menghargai teman dan menjunjung sportivitas. Yang paling penting, anak-anak dapat menikmati kebersamaan dan membawa pulang pengalaman yang menyenangkan,” ujar Mardiah.
Ia juga mengapresiasi antusiasme para orang tua yang ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Menurutnya, keterlibatan orang tua memberikan warna tersendiri dan menunjukkan bahwa pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan dukungan serta kebersamaan keluarga.
“Partisipasi orang tua sangat kami apresiasi. Ketika guru, orang tua dan anak-anak dapat bersama-sama mengikuti kegiatan seperti ini, hubungan kekeluargaan menjadi semakin kuat. Semoga kegiatan ini dapat terus menjadi kenangan indah bagi anak-anak,” tambahnya.
Menanamkan Semangat Kemerdekaan Sejak Dini
Perayaan HUT RI di lingkungan pendidikan anak usia dini sejatinya bukan sekadar menghadirkan perlombaan dan hiburan. Di balik keceriaan tersebut terdapat nilai pendidikan yang sangat penting.
Anak-anak diperkenalkan pada makna kebersamaan, saling menghargai, berani mencoba, menerima kemenangan maupun kekalahan dengan lapang dada, serta belajar bahwa kemerdekaan dapat dirayakan melalui hal-hal sederhana namun penuh makna.
Keceriaan yang terpancar dari wajah para murid RA Raja Silang menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat, termasuk sekolah dan keluarga.
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi penerus yang berani, percaya diri, berkarakter dan mampu hidup dalam kebersamaan. Dari halaman sekolah yang sederhana, semangat Indonesia dapat ditanamkan sejak dini—melalui tawa, permainan, sportivitas dan kebersamaan.
Perayaan HUT RI ke-81 di RA Raja Silang akhirnya bukan hanya meninggalkan kesan meriah, tetapi juga menghadirkan pesan bahwa semangat kemerdekaan akan semakin berarti ketika dikenalkan kepada generasi penerus dengan cara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang.
MERANTI, SIDIK24JAM – Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar secara resmi mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2026. Pengukuhan berlangsung di Ballroom Grand Meranti, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Dalam sambutannya, Bupati Asmar menyampaikan selamat kepada seluruh anggota Paskibra yang telah lolos seleksi dan menyelesaikan rangkaian pelatihan.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, kami mengucapkan selamat atas terpilihnya ananda sekalian sebagai Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih Tingkat Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2026,” ujar Asmar.
Putra-Putri Terbaik Daerah.
Bupati menegaskan, anggota Paskibra adalah putra-putri terbaik Meranti yang telah memenuhi syarat ketahanan fisik, postur, mental, moralitas, dan kedisiplinan.
“Terpilih menjadi anggota Paskibra bukan hanya sebuah kebanggaan, tetapi juga kehormatan sekaligus amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” tegasnya.
Sebelum pengukuhan, para anggota telah menjalani pendidikan dan latihan intensif untuk memantapkan fisik dan mental. Pembinaan itu dipersiapkan untuk mendukung tugas utama yakni pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih pada 17 Agustus mendatang.
“Di samping penempaan fisik, kalian juga mengalami penempaan mental. Pendidikan dan latihan ini akan berguna bagi diri kalian di masa yang akan datang,” katanya.
Jadilah Teladan.
Bupati Asmar berharap nilai-nilai kedisiplinan, nasionalisme, patriotisme, kepeloporan dan kepemimpinan yang didapat selama pelatihan tidak berhenti setelah upacara.
“Pesan saya, hasil pendidikan dan latihan ini dapat menjiwai sikap dan perilaku keseharian sehingga kalian menjadi contoh dan teladan bagi pelajar dan generasi muda lainnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan makna mendalam dari ikrar dan prosesi penciuman bendera Merah Putih. Menurutnya, semangat itu harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jiwa nasionalisme dan patriotisme harus mampu memberi energi positif baik untuk diri sendiri maupun masyarakat,” ucapnya.
Apresiasi Orang Tua dan Pelatih.
Pada kesempatan itu, Pemkab Meranti juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua/wali Paskibra atas doa dan dukungan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pembina, pelatih dan panitia.
“Embahlah amanah dan kepercayaan yang telah diberikan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah kepada kalian dengan penuh rasa tanggung jawab. Kami optimis ananda sekalian dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik dan sukses,” pungkas Asmar.
Turut hadir Forkopimda, Sekda, Kepala OPD, Camat, Lurah, Kades, Ketua MUI, LAMR, FKUB, tokoh masyarakat, serta seluruh anggota Paskibra Meranti 2026….(zamri)
Sidik24jam.com-Aceh Tamiang-Ada hal-hal sederhana di desa yang sering luput dari perhatian. Salah satunya adalah gotong royong.
Di tengah kesibukan masyarakat dengan pekerjaan masing-masing, masih ada warga yang bersedia menyisihkan waktu untuk turun bersama, membersihkan lingkungan, dan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bisa saja dikerjakan sendiri-sendiri.
Pemandangan itu terlihat di Tanjung Neraca, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Datok Penghulu bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat turun langsung melakukan gotong royong membersihkan lingkungan.
Kegiatan berlangsung di sepanjang jalan desa. Rumput dan semak yang tumbuh di sisi jalan dibersihkan agar lingkungan terlihat lebih rapi dan nyaman.
Tidak ada pekerjaan besar dalam kegiatan tersebut. Tidak pula membutuhkan peralatan yang rumit. Hanya warga yang turun ke lapangan, membersihkan lingkungan, dan bekerja bersama.
Namun, justru dari kegiatan sederhana seperti itu terlihat sesuatu yang lebih penting: kepedulian terhadap lingkungan dan rasa memiliki terhadap desa.
Gotong Royong Tak Harus Menunggu Waktu Luang
Datok Penghulu Tanjung Neraca, M. Ramli, mengatakan kegiatan gotong royong tersebut telah berlangsung selama dua hari. Sebelumnya, kegiatan serupa dilakukan di Dusun Matang Rambe.
“Kemarin kita gotong royong di Dusun Matang Rambe, buk, sebentar aja, setengah hari pagi, supaya masyarakat dan perangkat tetap bisa melanjutkan pekerjaan di siang hari,” kata M. Ramli.
Ada pesan sederhana dari cara itu: gotong royong tidak selalu membutuhkan waktu seharian.
Masyarakat tetap harus bekerja. Ada yang ke sawah, ke kebun, berdagang, atau menjalankan pekerjaan lainnya. Karena itu, beberapa jam pada pagi hari pun bisa menjadi cukup ketika ada kemauan untuk mengambil bagian.
Yang terpenting bukan berapa lama bekerja, melainkan kesediaan untuk hadir dan ikut mengerjakan.
Barangkali inilah salah satu alasan mengapa gotong royong masih bertahan di sebagian desa. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kegiatan besar. Kadang cukup beberapa orang berkumpul, membawa alat masing-masing, lalu menyelesaikan pekerjaan yang ada di depan mata.
Desa Tidak Hanya Dibangun dengan Anggaran
Ketika berbicara tentang pembangunan desa, pembicaraan sering berhenti pada anggaran, pembangunan fisik, program pemberdayaan, atau berbagai kegiatan yang tercatat dalam dokumen.
Semua itu penting.
Tetapi desa tidak hanya dibangun dengan anggaran.
Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan hasil pembangunan yang mereka gunakan bersama.
Jalan yang dibersihkan bersama, misalnya, bukan sekadar membuat lingkungan terlihat lebih rapi. Ada kesadaran bahwa ruang publik merupakan bagian dari kehidupan bersama dan karenanya perlu dijaga bersama pula.
Di titik inilah gotong royong menjadi lebih dari sekadar kegiatan membersihkan lingkungan.
Ia merupakan modal sosial.
Modal sosial memang tidak tercantum dalam papan informasi pembangunan. Tidak pula mudah dihitung dengan angka. Tetapi keberadaannya dapat dirasakan ketika warga masih bersedia berkumpul, bekerja bersama, dan mengambil bagian dalam urusan kampung.
Ketika perangkat desa ikut turun ke lapangan dan tokoh masyarakat berada di tengah warga, batas antara siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah menjadi lebih cair.
Semua berada dalam satu pekerjaan yang sama.
Dari Membersihkan Jalan hingga Menanam Sereh
Gotong royong di Tanjung Neraca tidak berhenti pada membersihkan rumput dan semak.
M. Ramli mengatakan ada rencana untuk menanam sereh di sepanjang sisi jalan yang telah dibersihkan.
Rencana tersebut sederhana, tetapi menarik. Sebab membersihkan lingkungan hanya merupakan langkah awal. Lingkungan yang sudah rapi tetap membutuhkan perawatan agar tidak kembali seperti sebelumnya.
Jika penanaman sereh itu benar-benar dilakukan dan dirawat secara bersama, kegiatan gotong royong tidak berhenti sebagai agenda menjelang peringatan kemerdekaan.
Ada keberlanjutan yang ingin dibangun.
Tentu saja, menanam tidak cukup. Tanaman perlu dirawat. Pemanfaatannya juga perlu dipikirkan. Karena itu, gagasan tersebut masih membutuhkan proses dan pengelolaan.
Namun, setidaknya ada upaya untuk mengubah kegiatan sesaat menjadi sesuatu yang bisa memberikan manfaat lebih panjang.
Di sinilah gotong royong menemukan maknanya yang lain: bukan hanya bekerja bersama, tetapi juga menjaga hasil pekerjaan bersama.
Kemerdekaan dan Tradisi yang Perlu Dirawat
Peringatan kemerdekaan biasanya identik dengan upacara, pemasangan bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan masyarakat.
Semua itu merupakan bagian dari cara masyarakat merayakan kemerdekaan.
Tetapi membersihkan lingkungan dan menjaga kebersamaan juga merupakan bentuk lain dari merawat semangat tersebut.
Apa yang dilakukan masyarakat Tanjung Neraca mungkin tidak akan menjadi berita besar. Tidak ada panggung besar, tidak ada peralatan canggih, dan tidak ada anggaran besar yang perlu dipamerkan.
Hanya jalan desa yang dibersihkan.
Tetapi justru dari kegiatan seperti itu kita dapat melihat bagaimana sebuah desa bekerja.
Sebab desa bukan hanya tentang kantor pemerintahan, pembangunan jalan, atau besarnya anggaran yang dikelola. Desa juga tentang hubungan antarmasyarakat dan kebiasaan mereka dalam menyelesaikan persoalan bersama.
Pembangunan yang baik tentu membutuhkan anggaran. Tetapi keberlanjutan pembangunan membutuhkan rasa memiliki.
Tanpa rasa memiliki, fasilitas yang dibangun akan mudah rusak dan lingkungan yang sudah dibersihkan akan kembali kotor. Sebaliknya, ketika masyarakat merasa ikut memiliki, hal-hal sederhana pun bisa dirawat bersama.
Karena itu, gotong royong layak dipertahankan bukan sekadar sebagai tradisi menjelang 17 Agustus.
Ia perlu tetap hidup dalam berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Tanjung Neraca hari ini mungkin hanya sedang membersihkan jalan.
Namun dari jalan yang dibersihkan itu kita bisa melihat sesuatu yang lebih besar: masih ada masyarakat yang bersedia meluangkan waktu untuk bekerja bersama.
Di tengah kehidupan yang semakin individual, hal semacam itu bukan sesuatu yang sepele.
Sebab salah satu tanda sebuah desa masih memiliki kekuatan bukan hanya terlihat dari apa yang berhasil dibangunnya, tetapi juga dari apakah masyarakatnya masih mau menjaga dan mengerjakannya bersama.
Dan selama gotong royong masih hidup, desa masih memiliki satu modal penting yang tidak bisa dibeli dengan anggaran: rasa memiliki. ( KS)
Sidik24jam.com-Aceh Tamiang– Perencanaan pembangunan yang baik selalu dimulai dari pemahaman terhadap kondisi yang sebenarnya. Itulah semangat yang terlihat dalam Musyawarah Penetapan Indeks Desa Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kampung Alue Sentang, Kabupaten Aceh Tamiang.
Kegiatan ini dihadiri oleh Datok Penghulu Alue Sentang, Martunis, S.Pd.I., Ketua Majelis Duduk Setikar Kampung (MDSK) Jailani, perangkat kampung, Pendamping Lokal Desa Kasiani,S.ST, serta Lena Afrina, S.E., Ak., M.S.M., Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Aceh Tamiang yang juga menjadi Person in Charge (PIC) Indeks Desa tingkat kabupaten.
Dalam sambutannya, Datok Penghulu Martunis menegaskan bahwa Musyawarah Penetapan Indeks Desa memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan kampung. Melalui forum ini, pemerintah kampung bersama seluruh unsur yang terlibat menyepakati hasil pemutakhiran data sebagai dasar penyusunan program pembangunan pada tahun mendatang.
MDSK yang merupakan sebutan lokal untuk Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kabupaten Aceh Tamiang turut berperan aktif dalam proses musyawarah. Kehadiran lembaga tersebut menunjukkan bahwa penyusunan data pembangunan desa dilakukan secara partisipatif dan melibatkan berbagai unsur pemerintahan kampung.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan rekomendasi berdasarkan hasil pemutakhiran Indeks Desa. Berbagai rekomendasi yang dihasilkan menjadi masukan penting bagi pemerintah kampung dalam menentukan prioritas pembangunan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Indeks Desa sendiri bukan sekadar kumpulan data administratif. Instrumen ini menjadi salah satu acuan untuk melihat perkembangan desa dari berbagai aspek, mulai dari pelayanan dasar, kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan. Karena itu, keakuratan data menjadi hal yang sangat penting agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran.
Kehadiran TAPM Kabupaten Aceh Tamiang sebagai PIC Indeks Desa turut memberikan penguatan mengenai pentingnya validasi data dalam setiap tahapan pemutakhiran. Data yang baik akan menghasilkan perencanaan yang baik, sementara perencanaan yang baik akan memperbesar peluang keberhasilan pembangunan desa.
Sebagai bentuk kesepakatan bersama, kegiatan ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Pemutakhiran Indeks Desa oleh Datok Penghulu, Ketua MDSK, dan Pendamping Lokal Desa. Penandatanganan tersebut menjadi bukti bahwa hasil pemutakhiran telah melalui proses musyawarah dan disepakati oleh seluruh pihak yang hadir.
Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen seluruh unsur pemerintahan kampung untuk terus mendorong pembangunan berbasis data.
Musyawarah Penetapan Indeks Desa menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga pada kualitas data yang dimiliki. Ketika data disusun secara akurat dan dibahas melalui musyawarah, setiap program yang direncanakan akan memiliki arah yang lebih jelas serta lebih mampu menjawab kebutuhan masyarakat. (KS)
sidik24jam . SELATPANJANG – Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia IBI ke-75 yang digelar di Aula Gedung Afifa, Selatpanjang, Sabtu 1 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua dan jajaran Pengurus IBI Cabang Kepulauan Meranti, Ketua PD IBI Provinsi Riau Bdn. Karmina Dewi, SST., http://M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Meranti, Ketua Gabungan Organisasi Wanita GOW, para ketua organisasi profesi, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Asmar menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh bidan atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak.
“Hari ini kita berkumpul dalam suasana penuh syukur untuk memperingati Hari Ulang Tahun IBI ke-75. Sebuah perjalanan panjang yang membuktikan dedikasi dan pengabdian para bidan dalam menjaga kesehatan ibu dan anak serta meningkatkan kualitas generasi bangsa,” ujar Asmar.
Menurutnya, selama 75 tahun IBI telah menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Peran bidan tidak hanya membantu proses persalinan, tetapi juga mendampingi keluarga dalam menjaga kesehatan reproduksi, memberikan edukasi, serta memastikan setiap ibu dan anak memperoleh hak atas pelayanan kesehatan yang berkualitas.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh bidan yang telah bekerja dengan penuh keikhlasan, meski sering menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Semangat pengabdian ini merupakan wujud nyata komitmen IBI dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa,” katanya.
Siap Mengawal Generasi Emas 2045.
Bupati Asmar juga menyoroti tema HUT IBI ke-75 tahun ini, yakni ‘Dunia Membutuhkan Lebih dari Sejuta Bidan: Bidan Indonesia Memperkuat Kepemimpinan Bidan dalam Pelayanan Kebidanan Berbasis Hak, Berpusat pada Perempuan dan Anak serta Siap Mengawal Generasi Emas 2045’.
Menurutnya, tema tersebut menegaskan bahwa bidan bukan sekadar tenaga kesehatan, melainkan pemimpin dalam pelayanan kebidanan yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak perempuan dan anak.
“Bidan hadir untuk memastikan setiap ibu mendapatkan pendampingan yang layak, setiap anak lahir dengan selamat, dan setiap keluarga memperoleh edukasi kesehatan yang berkualitas. Dedikasi para bidan menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia berharap IBI terus berinovasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi serta memperkuat kolaborasi bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Ketua PD IBI Provinsi Riau, Bdn. Karmina Dewi, SST., http://M.Kes., mengatakan usia 75 tahun menjadi momentum penting bagi IBI untuk semakin memperkuat peran organisasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan di Indonesia.
“Di setiap perjalanan bangsa, bidan selalu hadir mendampingi perempuan sejak masa remaja, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui hingga pelayanan kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan. Bidan bukan sekadar profesi, tetapi merupakan panggilan pengabdian,” ungkapnya.
Karmina juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dalam mendukung pembangunan sektor kesehatan, khususnya peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Pada kesempatan tersebut juga diperkenalkan kepengurusan baru IBI Cabang Kabupaten Kepulauan Meranti dengan Yurnalita, SST., M.K.M. sebagai Ketua. Kepengurusan baru diharapkan mampu membawa organisasi semakin profesional, adaptif, dan terus meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Peringatan HUT IBI ke-75 berlangsung penuh semangat kebersamaan dan menjadi momentum memperkuat komitmen seluruh bidan untuk terus memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi perempuan, ibu, anak, keluarga, serta masyarakat demi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045…(zamri
Sidik24jam.com-Aceh Tamiang – Tim Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Aceh Tamiang menggelar “On the Job Training” (OJT) sebagai bagian dari upaya memperkuat pendampingan pelaksanaan Pemutakhiran Indeks Desa Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi forum penyamaan persepsi sekaligus penguatan kapasitas pendamping agar proses pemutakhiran data desa berjalan tepat waktu, sesuai ketentuan, serta menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kegiatan dipimpin oleh Koordinator Kabupaten (Koorkab) TPP Aceh Tamiang, bersama Tenaga Ahli (TA) Person in Charge (PIC) Indeks Desa, Lena Afrina, S.E., Ak., M.S.M. Peserta terdiri atas Pendamping Desa (PD) se-Kabupaten Aceh Tamiang, Koordinator Kecamatan (Korcam), PD PIC Indeks Desa, serta Pendamping Lokal Desa (PLD) yang menjadi perwakilan pelaksanaan OJT Indeks Desa. Salah satu materi utama dalam OJT adalah optimalisasi penggunaan fitur “Ambil Tahun Lalu” pada Portal Indeks Desa. Melalui tahapan Ambil Tahun Lalu, Proses Data – kemudian -Unduh, data kuisioner tahun sebelumnya dapat ditarik secara otomatis ke dalam format kuisioner Indeks Desa Tahun 2026.
Dalam pemaparannya, Lena Afrina menjelaskan bahwa fitur tersebut dirancang untuk membantu mempercepat proses pemutakhiran, bukan untuk menggantikan proses verifikasi data di tingkat desa.
“Fitur Ambil Tahun Lalu bukan untuk menyalin data tahun sebelumnya begitu saja, melainkan untuk mempermudah proses pemutakhiran. Seluruh data tetap harus diverifikasi dan disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan,” tegas Lena Afrina, S.E., Ak., M.S.M.
Menurutnya, dengan memanfaatkan data yang telah tersedia pada Portal Indeks Desa, pemerintah desa tidak perlu menginput seluruh data dari awal sehingga waktu pengisian menjadi lebih efisien dan progres pemutakhiran dapat meningkat. Namun, seluruh data yang ditarik melalui fitur tersebut tetap wajib diverifikasi dan diperbarui berdasarkan kondisi aktual desa.
Setiap indikator harus diperiksa kembali dengan mengacu pada fakta di lapangan, termasuk melalui pengumpulan data pendukung dan penyelesaian delapan template yang menjadi dasar pengisian kuisioner Indeks Desa Tahun 2026. Dengan demikian, data yang tersimpan dalam Portal Indeks Desa benar-benar menggambarkan kondisi desa pada saat pemutakhiran dilakukan, bukan sekadar mengulang data tahun sebelumnya.
Dalam OJT juga ditegaskan bahwa Pendamping Desa (PD) bersama Pendamping Lokal Desa (PLD) memiliki peran strategis dalam mengawal seluruh proses pemutakhiran. Tugas pendamping tidak hanya memastikan pemerintah desa mampu memanfaatkan fitur-fitur pada Portal Indeks Desa, tetapi juga memfasilitasi proses verifikasi, memberikan pendampingan terhadap setiap indikator yang diisi, serta memastikan seluruh data yang disampaikan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Pendamping menjadi garda terdepan dalam memastikan proses pemutakhiran menghasilkan data yang akurat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Indeks Desa sebagai Dasar Perencanaan Pembangunan
Indeks Desa merupakan instrumen yang digunakan pemerintah untuk mengukur tingkat perkembangan desa melalui berbagai indikator yang mencerminkan kondisi nyata desa, mulai dari pelayanan dasar, sosial, ekonomi, lingkungan, tata kelola pemerintahan, hingga ketahanan desa. Hasil pemutakhiran data menjadi salah satu rujukan penting dalam penyusunan kebijakan, evaluasi pembangunan, serta perencanaan program yang lebih tepat sasaran.
Karena itu, kualitas data menjadi faktor yang sangat menentukan. Semakin valid dan akurat data yang disampaikan oleh pemerintah desa, semakin baik pula gambaran kondisi desa yang dihasilkan. Hal tersebut akan mendukung pengambilan kebijakan pembangunan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, proses penginputan Pemutakhiran Indeks Desa Tahun 2026 di tingkat desa berlangsung mulai 27 Juli hingga 10 Agustus 2026. Selama periode tersebut, Tim Pendamping Profesional akan terus melakukan pendampingan dan koordinasi agar seluruh tahapan berjalan sesuai pedoman. Melalui sinergi antara pemerintah desa, PD, PLD, dan TA Kabupaten, diharapkan Pemutakhiran Indeks Desa Tahun 2026 dapat menghasilkan data yang berkualitas sebagai fondasi penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan desa yang semakin tepat sasaran. (KS)
Sidik24jam.com-Aceh Tamiang – Mengawali masa kepemimpinannya setelah resmi dilantik oleh Bupati Aceh Tamiang, Datok Penghulu Kampung Lueng Manyo, Kecamatan Manyak Payed, M. Basir, menggelar silaturahmi bersama perangkat desa, lembaga kemasyarakatan, dan kader desa di Kantor Datok Penghulu Lueng Manyo, Selasa (22/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Desa, Kaur Keuangan, Kaur Umum dan Perencanaan, Kasi Pemerintahan, Kasi Kesejahteraan, Kepala Dusun Trieng Gading, Kepala Dusun Tunas Baru, Majelis Duduk Setikar Kampung (MDSK) beserta anggotanya, LKMD, kader Posyandu, serta Pendamping Lokal Desa (PLD).
Mengawali pertemuan, M. Basir mengucapkan rasa syukur atas amanah yang diberikan kepadanya untuk memimpin Kampung Lueng Manyo. Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut masih sebatas ajang silaturahmi untuk mempererat komunikasi awal bersama seluruh unsur pemerintahan dan kelembagaan kampung. “Agenda kita hari ini sebatas silaturahmi saya sebagai Datok Penghulu yang baru dilantik,” ujar M. Basir.
Ia menambahkan, agenda pembahasan yang lebih substansial, termasuk Musyawarah Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJM Kampung), direncanakan akan dilaksanakan pada pekan depan.
Meski belum memasuki tahapan musyawarah perencanaan secara resmi, suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban. Berbagai persoalan, masukan, dan harapan mulai disampaikan peserta sebagai bahan awal dalam menyusun arah pembangunan kampung ke depan.
Pembahasan diawali dengan diskusi mengenai mekanisme pencairan bantuan stimulan rehabilitasi rumah. Topik tersebut mendapat perhatian peserta yang aktif bertukar informasi terkait proses penyaluran bantuan kepada masyarakat. Ketua MDSK, Tgk. Marhalim, menyampaikan harapannya agar kegiatan pengajian bulanan di dayah kembali diramaikan oleh unsur pemerintah kampung. Menurutnya, kehadiran aparatur desa dalam kegiatan keagamaan tidak hanya mempererat hubungan dengan masyarakat, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga syiar keagamaan di kampung.
Sementara itu, Kasie Kesejahteraan Julfa mengusulkan agar pemerintah kampung dapat menyediakan operator desa guna mendukung pengelolaan administrasi pemerintahan serta meningkatkan efektivitas pelayanan kepada masyarakat.
Masukan lainnya disampaikan Sekretaris Desa Feri Ferdana yang mengajak seluruh perangkat desa untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong yang mulai memudar di tengah masyarakat. Menurutnya, semangat kebersamaan harus diawali dari pemerintah kampung sehingga dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam menghidupkan kembali budaya saling membantu.
Pada kesempatan yang sama, Pendamping Lokal Desa Kasiani, S.ST menyampaikan komitmennya untuk terus mendampingi Pemerintah Kampung Lueng Manyo dalam setiap tahapan pembangunan desa, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasiani, S.ST menegaskan bahwa kehadiran pendamping desa bukan semata sebagai pengawas, melainkan sebagai mitra pemerintah kampung yang siap mendukung tata kelola pemerintahan desa. Selain itu, pendamping desa juga berkomitmen mendokumentasikan berbagai praktik baik yang dilakukan pemerintah kampung sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi kepada masyarakat.
Berbagai masukan yang muncul dalam pertemuan tersebut menunjukkan antusiasme peserta dalam menyampaikan gagasan, meskipun forum tersebut belum memasuki tahapan musyawarah resmi. Usulan mengenai penguatan pelayanan publik, penyediaan operator desa, pelestarian budaya gotong royong, hingga peningkatan partisipasi aparatur dalam kegiatan keagamaan diperkirakan akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut pada Musyawarah Penyusunan RPJM Kampung yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Menutup pertemuan, Datok Penghulu M. Basir berharap seluruh perangkat Kampung Lueng Manyo dapat bekerja secara maksimal, khususnya dalam pengelolaan administrasi pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. “Saya berharap seluruh perangkat dapat bekerja semaksimal mungkin. Jangan sampai administrasi menghambat pelayanan kepada masyarakat. Justru kita harus memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dan mempermudah setiap urusan masyarakat,” tegas M. Basir.
Silaturahmi perdana tersebut menjadi langkah awal membangun komunikasi, menyerap aspirasi, serta memperkuat sinergi antara pemerintah kampung, lembaga kemasyarakatan, kader desa, dan pendamping desa dalam mewujudkan pemerintahan kampung yang responsif, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. Berbagai gagasan yang mulai mengemuka dalam forum ini diharapkan menjadi modal awal dalam penyusunan RPJM Kampung yang akan menentukan arah pembangunan Kampung Lueng Manyo selama masa kepemimpinan Datok Penghulu M. Basir. (KS)