
![]()
Denmark – Biro Penerangan Aceh Merdeka Sjukri Bin Ibrahim/Wareeh dalam pers rilisnya pada Selasa 9 Juli 2024 menyarankan kepada oknum oknum yang terlibat dalam mengadakan konser di malam 1 Muharram Tahun Baru Islam, harus berhati-hati di bumi Aceh.
“Tahun baru umat Islam seluruh dunia biasanya diisi dengan acara-acara keagamaan dengan maksud dan tujuan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, tapi hal ini berbalik dengan yang terjadi di salah satu kabupaten di Aceh, sungguh sangat disayangkan dan menyakitkan hati jutaan umat islam di Aceh,”kata Wareeh.
Wareeh menyebutkan bahwa Aceh yang gelarnya Serambi Mekkah dimana dulunya di Aceh tempatnya para syuhada, aulia dan orang orang saleh yang paham akan agama Islam dan dengan beraninya menegakkan amar makruf nahi mungkar, seperti dicontohkan oleh Sultan Iskanda Muda: *Matee Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Pat Tamita.*
“Sungguh indatu (leluhur) kita akan menangis melihat tingkah laku generasi generasi di Aceh sekarang, jangan kita mengundang bala di tanah Serambi Mekah, karena dari dulu Aceh di kenal kental akan agama Islamnya yang begitu kokoh dan pemimpin-pemimpin Aceh yang akhir hidupnya memilih perjuangan untuk mati sjahid demi menegakkan kebenaran demi Islam dan negara Aceh,”ungkap Wareeh.
Sejarah mencatat dalam perjanjian antara rakyat Aceh dan pemerintah Indonesia. “Namun, yang kami dapatkan hanyalah kebohongan dan penipuan terkait perjanjian-perjanjian tersebut.” Sebut Wareeh.
Bagi generasi penerus perjuangan Aceh, generasi yang mewarisi pemikiran Indatu dan Tengku Tjhik Di Tiro Hasan Muhammad, sejarah buruk, penyemangat besar, alasan besar bagi kami kaum revolusi, dan Aceh adalah warisan untuk bangsa Aceh, warisan yang dimaksud tidak bolah bangsa lain yang jadi tuan di tanah kita. Dan kita berharap kepada lapisan masyakarat Aceh, meningkatkan semangat kesadaran untuk menjaga WARISAN kita bangsa Aceh.”Ungkap Wareeh
Lebih lanjut disampaikan Wareeh, “Rakyat Aceh Harus Tau.Melayu mudah Lupa.! Nukilan : Mantan Perdana Menteri Malaysia (Mahathir Mohamad) Apakan Aceh sama seperti slogan yang yang digambarkan dalam nukilan itu.?! Semua kekalahan Aceh, mareka gunakan dengan strategi yang sama, orang Aceh senang kalau dipuji, disanjung dan cepat terlena dengan kedudukan jabatan, inilah penyakit bangsa kita dan sekarang bangsa Aceh harus lawan Lupa.”
”kita telah lupa akan status diri kita dulu, dan sekarang kita sudah jadi lamiet (babu) atau budak, yang namanya budak tidak ada hak apa apa atas negerinya sendiri, selain menjilat dan berharap pada tuannya, walau bagaimanapun tinggi ilmunya, se-saleh apapun imannya dan bahkan sudah jadi akademisi sekalipun dan sudah mendapat gelar sarjana, gelar teungku dan dimuliakan oleh masyarakat, tapi tetap menjadi budak kepada sistim menjajah. Dan mereka akan memperlakukan kita lebih dari itu di dalam tanah (Nanggroë) sendiri ungkap Wareeh.
Beberapa minggu yang lalu mereka juga merayakan HUT Bhayangkara itu bukan dari Adat Budaya bangsa kita, mareka pihak Indonesia tidak pernah lelah untuk berusaha memisahkan agama dengan cara kehidupan masyarakat Islam Aceh, memisahkan agama dengan politik, agama dengan reusam Aceh dan lain-lain.
‘’’Hal ini memang tidak kita sadari dengan kasat mata, tapi bisa kita lihat dari tatanan kehidupan sehari-hari bangsa Aceh sekarang.
Dari kacamata saya, kita orang Aceh sudah jauh dari bangsa yang punya dignity di mata orang luar, sehingga mereka tak ada segan-segannya mengeruk hasil bumi dan merusak tata kehidupan di Aceh, sebab sebuah bangsa yang tidak menghargai dirinya sendiri akan mudah dijadikan hamba sahaya oleh bangsa lain seumur dunia.
Hal ini sangat indentik, bahwa bangsa Aceh sudah terkena penyakit hilang ingatkan atau hana turi droe dan tusoë nan droë (indentity crisis) , “Tutup Sjukri melalui siaran pers nya.



