
![]()
Sidik24jam.com | Aceh Tamiang.
Di tengah berbagai upaya percepatan penurunan stunting, ada satu pekerjaan yang sering luput dari perhatian publik. Pekerjaan itu bukan pembangunan fisik, bukan pula program yang mudah terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Pekerjaan tersebut adalah pendataan dan pemantauan kesehatan masyarakat.
Bagi sebagian orang, data mungkin hanya dianggap kumpulan angka yang memenuhi laporan. Tidak mengherankan jika urusan pendataan sering kalah menarik dibandingkan pembangunan jalan, gedung, atau berbagai proyek yang hasilnya dapat langsung dilihat.
Padahal dalam upaya pencegahan stunting, data justru menjadi fondasi utama. Tanpa data yang akurat dan diperbarui secara berkala, sulit mengetahui apakah intervensi yang dilakukan benar-benar menjangkau sasaran yang membutuhkan.
Hal inilah yang membuat capaian tiga Desa di Kabupaten Aceh Tamiang patut mendapat perhatian.
Berdasarkan capaian Score Card aplikasi Electronic Human Development Worker (eHDW), tiga desa dengan nilai tertinggi berasal dari Kecamatan Manyak Payed, yaitu Desa Tanjung Neraca dengan capaian 93,43 persen, Desa Geudham 48,74 persen, dan Desa Seuneubok Pidie 46,80 persen.
Di antara 216 desa yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang, capaian tersebut menunjukkan adanya konsistensi dalam proses pemantauan dan penginputan data sasaran percepatan penurunan stunting.
Sekilas, angka-angka tersebut mungkin tampak sebagai capaian administratif semata. Namun di balik setiap data yang masuk ke dalam sistem terdapat proses yang tidak sederhana.
Aplikasi eHDW dirancang sebagai instrumen pemantauan berbagai kelompok sasaran yang berisiko mengalami masalah gizi dan kesehatan. Pemantauan dimulai sejak remaja putri melalui pemeriksaan anemia dan pemberian tablet tambah darah, berlanjut kepada calon pengantin perempuan, ibu hamil, hingga balita.
Pada kelompok ibu hamil, misalnya, sistem memantau kepatuhan pemeriksaan kehamilan sesuai standar pelayanan kesehatan. Sementara pada balita, pemantauan dilakukan terhadap pertumbuhan, imunisasi, pemberian vitamin, dan berbagai indikator kesehatan lainnya.
Dengan kata lain, eHDW tidak hanya berbicara tentang data, tetapi tentang upaya memastikan setiap tahapan kehidupan mendapatkan perhatian yang memadai untuk mencegah lahirnya generasi stunting.
Meski demikian, menjaga konsistensi pemantauan bukan perkara mudah.
Di banyak desa, tantangan terbesar justru berada pada aspek operasional. Kegiatan pemantauan membutuhkan waktu, tenaga, dan komitmen dari kader maupun petugas lapangan. Sementara dukungan pembiayaan untuk aktivitas tersebut sering kali masih terbatas.
Akibatnya, penginputan data di sejumlah wilayah belum dapat berjalan optimal. Bukan karena program dianggap tidak penting, melainkan karena terdapat berbagai kendala teknis dan sumber daya yang harus dihadapi secara bersamaan.
Dalam konteks itulah capaian tiga desa di Kecamatan Manyak Payed menjadi menarik untuk dicermati.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak selalu ditentukan oleh besarnya program yang dijalankan, tetapi juga oleh konsistensi dalam memastikan setiap sasaran terpantau dengan baik.
Ada satu pelajaran penting yang dapat diambil dari capaian tersebut: pembangunan manusia sering kali dimulai dari pekerjaan-pekerjaan yang jarang mendapat perhatian.
Data mungkin tidak menghasilkan seremoni besar. Penginputan laporan mungkin tidak menghadirkan tepuk tangan. Namun melalui data yang akurat dan pemantauan yang berkelanjutan, desa memiliki kemampuan untuk melihat kondisi generasinya secara lebih jelas dan mengambil langkah yang tepat sebelum masalah muncul.
Pada akhirnya, stunting tidak turun karena score card yang tinggi. Anak-anak tidak tumbuh sehat hanya karena sebuah aplikasi berjalan dengan baik.
Namun score card yang tinggi dapat menjadi indikator bahwa proses pemantauan berjalan, sasaran terus diperhatikan, dan ada komitmen untuk memastikan tidak ada kelompok rentan yang terlewatkan dari pengawasan.
Karena itu, angka 93,43 persen, 48,74 persen, dan 46,80 persen tidak hanya mencerminkan capaian administrasi. Angka-angka tersebut juga merepresentasikan konsistensi kerja para kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa dalam menjaga kualitas generasi masa depan melalui pekerjaan yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat menentukan, Kamis (11/06/26)
Reporter : Kasiani
Editor : Andi



