
Sidik24Jam.com-Manyak Payed (Aceh Tamiang).
Perjalanan menuju sekolah yang setiap hari dilalui Maulida Dhuhra (34), guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di SDN Lueng Manyo, berakhir dengan kecelakaan, Senin (5/10/2026) pagi.
Sekitar pukul 07.38 WIB, Maulida berangkat dari Paya Kulbi, Dusun Tualang, menuju SDN Lueng Manyo dengan mengendarai sepeda motor. Ia membonceng putrinya yang masih berusia enam tahun dan juga bersekolah di SDN Lueng Manyo.
Namun, perjalanan tersebut terhenti ketika Maulida melintasi ruas jalan di Desa Alue Ie Puteh yang kondisinya berupa jalan tanah, berlubang dan berlumpur.
Di salah satu bagian jalan terdapat galian pada sisi kanan yang dibuat untuk mengalirkan air dari badan jalan menuju parit.
Menurut Maulida, ketika sepeda motor yang dikendarainya sampai di bagian tersebut, kendaraan sudah tidak dapat melanjutkan perjalanan. Untuk mundur pun sulit dilakukan sehingga ia kehilangan keseimbangan.
Maulida memiliki kondisi khusus pada kaki kirinya karena terdapat pen pada bagian paha sehingga panjang kedua kakinya tidak sama.
Dalam kondisi kehilangan keseimbangan, perhatian Maulida bukan hanya pada dirinya sendiri. Ia berusaha menahan sepeda motor agar tidak menimpa anaknya yang duduk di belakang.
Upaya tersebut membuat Maulida akhirnya ikut terjatuh.
“Saya tahan kereta supaya tidak menimpa anak di belakang,” ujar Maulida saat dikonfirmasi.
Setelah terjatuh, Maulida tidak langsung dapat bangun. Kaki kirinya terasa kebas dan sakit. Ia mengalami luka lecet pada kaki dan bahu kiri. Telapak tangannya juga terasa sakit, sementara bahu kirinya terkilir akibat kejadian tersebut.
Anaknya yang berusia enam tahun dalam kondisi baik dan tidak mengalami luka. Namun, anak tersebut sempat menangis karena syok setelah ikut terjatuh bersama ibunya.
Sejumlah warga yang melintas kemudian membantu mengangkat Maulida, anaknya, serta sepeda motor dari lokasi kejadian.
Karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, Maulida akhirnya kembali ke rumah. Ia diantar oleh Wakil Kepala Sekolah yang kebetulan berada di lokasi kejadian.
Bagi Maulida, perjalanan tersebut sebenarnya merupakan rutinitas menuju tempatnya mengajar. Pagi itu, ia tidak menyangka perjalanan menuju sekolah justru berakhir dengan dirinya terjatuh dan harus kembali pulang sebelum menjalankan tugas mengajar.
Jalan sebelumnya mengalami genangan
Kondisi ruas jalan tersebut diketahui memang mengalami persoalan genangan. Kepala Dusun Lama Desa Alue Ie Puteh, Jaylani, mengonfirmasi bahwa bagian jalan yang berlubang sebelumnya menyebabkan air menggenang di badan jalan.
Untuk mengatasi genangan tersebut, warga secara swadaya pada Minggu (4/10/2026) melakukan penggalian pada sisi kanan jalan agar air dari badan jalan dapat mengalir menuju parit.
Jaylani juga menjelaskan bahwa sisi kiri jalan telah dirapikan agar tetap dapat digunakan pengguna jalan.
Kondisi tersebut turut dicek di lapangan. Bagian sisi kiri jalan terlihat telah dirapikan dan masih dapat dilalui kendaraan.
Sekretaris Desa Alue Ie Puteh, Jamaluddin, membenarkan bahwa penggalian dilakukan secara swadaya oleh warga sebagai upaya mengatasi genangan air akibat kondisi badan jalan yang berlubang.
Penanda dipasang setelah kejadian
Menurut Maulida, ketika kecelakaan terjadi belum terdapat penanda pada bagian galian tersebut.
Setelah kejadian, pemerintah desa kemudian langsung memasang penanda sementara di sekitar lokasi. Penanda tersebut dibuat menggunakan potongan batang pisang yang ditancapkan dan diberi plastik menyerupai bendera.
Penanda itu dipasang sebagai tanda bagi pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintasi bagian tersebut.
Jalan disebut telah masuk DED 2026
Di tengah kondisi jalan yang masih menjadi persoalan, Datok Penghulu Alue Ie Puteh menyampaikan bahwa ruas jalan tersebut sebenarnya telah masuk dalam DED tahun 2026.
Menurut Datok Penghulu, rencana penanganan tersebut terkendala dampak banjir yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025.
Meski demikian, kejadian yang dialami Maulida menunjukkan bahwa kondisi jalan yang berlubang, berlumpur dan rawan tergenang tetap memiliki risiko bagi masyarakat yang melintas. Terlebih, ruas tersebut menjadi akses yang digunakan guru dan siswa dalam perjalanan menuju SDN Lueng Manyo.
Upaya warga membuka aliran air dan langkah pemerintah desa memasang penanda sementara menjadi penanganan awal untuk mengurangi risiko di lokasi. Namun, kondisi badan jalan yang masih membutuhkan perbaikan membuat penanganan permanen tetap dinantikan.
Kecelakaan yang dialami Maulida menjadi pengingat bahwa persoalan infrastruktur jalan bukan hanya menyangkut kenyamanan perjalanan, tetapi juga keselamatan masyarakat yang menggunakannya setiap hari, termasuk guru dan anak-anak yang berangkat ke sekolah.
Masyarakat berharap rencana penanganan yang telah masuk dalam DED 2026 dapat segera mendapat tindak lanjut, sehingga akses menuju sekolah dan aktivitas warga di ruas jalan tersebut dapat berlangsung dengan lebih aman. (KS)



