
![]()
Sidik24jam,com —11-Agustus 2025. Dugaan kasus perdagangan dan eksploitasi seksual anak di bawah umur mencuat di Kecamatan Inamosol, tepatnya di Kilo 6, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Kasus ini viral di media sosial setelah diunggah oleh salah satu warga di akun Facebook.
Informasi yang beredar menyebutkan, ada indikasi sejumlah pelaku dilindungi atau dibungkam oleh oknum berpengaruh di kampung tersebut. Bahkan, orang tua korban disebut telah menerima uang dalam jumlah bervariasi dari pelaku, bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali.
Menurut sumber, uang itu diberikan pelaku bukan sebagai “hadiah”, tetapi karena terancam akan dilaporkan oleh orang tua korban. Dengan adanya ancaman tersebut, pelaku membayar sejumlah uang agar aksinya tidak diungkap.
Korban saat ini telah dievakuasi ke Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, untuk menghindari tekanan dan pembicaraan masyarakat. Namun, informasi yang diterima media ini menyebutkan korban mengalami luka pada alat kelaminnya akibat perbuatan bejat yang dilakukan lebih dari satu orang pelaku, berulang kali sejak korban masih duduk di bangku SD. Saat ini korban tercatat sebagai siswi SMP.
Selain uang yang diterima orang tua korban, korban sendiri diduga pernah mendapatkan imbalan langsung dari pelaku sebagai bagian dari praktik eksploitasi seksual. Dugaan ini menguatkan indikasi adanya perdagangan anak di bawah umur.
Ironisnya, kasus ini juga diketahui oleh seorang oknum TNI AD yang sempat marah, namun kemudian memilih bungkam. Oknum tersebut diduga memanggil para pelaku dan orang tua korban untuk “menyelesaikan” masalah secara internal di rumahnya, tanpa melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, atau pihak berwenang.
Bahkan, pelaku diminta membayar Rp1.500.000 kepada orang tua korban pada 16 Juli 2025. Oknum TNI ini diketahui masih memiliki hubungan keluarga dengan korban dan merupakan ajudan Ketua DPRD SBB, Andy Koly.
Akibat kasus ini, banyak warga yang memiliki anak perempuan menjadi takut untuk mengizinkan mereka pulang ke kampung Kilo 6, khawatir kejadian serupa menimpa anak mereka. Sumber menyebut, masyarakat mengetahui siapa saja pelakunya, namun enggan melapor karena takut mendapat ancaman dari keluarga pelaku.
Aparat kepolisian diminta segera menindaklanjuti kasus ini secara terbuka agar tidak ada lagi korban baru dan rasa takut di tengah masyarakat dapat dihapuskan.
Menanggapi dugaan adanya hubungan emosional pelaku dan korban dengan dirinya, Ketua DPRD SBB Andy Koly mengatakan, “Kalau itu langsung saja ke pihak berwenang. Dalam hal seperti ini Beta seng bisa berasumsi, itu kewenangan penegak hukum,” ujarnya dengan dialek Ambon.
Timsidik



