
![]()
Sidik24jam.com-Aceh Tamiang- Bagi nelayan, melaut bukan hanya soal berangkat mencari ikan dan pulang membawa hasil. Ada pula kekhawatiran ketika berada jauh di laut, terutama saat terjadi situasi darurat di daratan yang membutuhkan kabar segera.
Keresahan itu disampaikan Ibrahim (39), salah seorang nelayan Desa Raja Tuha, Kecamatan Manyak Payed, saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Ia bercerita tentang sulitnya para nelayan mendapatkan informasi ketika ada anggota keluarga atau kerabat di darat yang meninggal dunia lantaran minimnya jaringan dan tingginya harga alat komunikasi.

“Ya Buk, karena kalau kita beli sendiri itu mahal, tidak terjangkau dengan pendapatan kami,” tutur Ibrahim.
Ia berharap pemerintah dapat melihat kebutuhan nelayan terhadap perangkat komunikasi yang bisa digunakan saat melaut jauh dari daratan. Perangkat seperti radio komunikasi wilayah laut dinilai dapat membantu nelayan tetap mendapatkan informasi dari keluarga maupun pihak di darat ketika jaringan telepon seluler tidak lagi menjangkau.
Bagi nelayan dengan penghasilan yang tidak menentu, membeli sendiri perangkat komunikasi tersebut bukan perkara mudah. Karena itu, Ibrahim berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah agar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi.
“Kalau ada bantuan dari pemerintah, kami senang sekali Buk, karena bisa membantu kami masyarakat kecil,” ujar Ibrahim.
Bongkar Ikan Masih Manual
Selain persoalan komunikasi, Ibrahim juga menyampaikan kesulitan lain yang selama ini dihadapi nelayan ketika membongkar hasil tangkapan dari kapal.
Proses menaikkan dan menurunkan hasil tangkapan masih banyak dilakukan secara manual. Kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika air laut sedang surut. Nelayan harus bekerja ekstra keras untuk memindahkan ikan dari kapal ke daratan.
Ibrahim berharap pemerintah daerah dapat memberi solusi, salah satunya melalui penyediaan Crane mini atau alat bantu pengangkut ikan di lokasi pendaratan.
Menurutnya, keberadaan alat tersebut akan sangat membantu nelayan, terutama ketika kondisi air sedang surut sehingga proses pemindahan ikan tidak lagi melulu mengandalkan tenaga fisik manusia.
Para nelayan berharap pemerintah daerah dapat melihat kebutuhan tersebut dan memberikan solusi, baik untuk komunikasi saat melaut maupun fasilitas bongkar ikan di lokasi pendaratan. (KS)



