
![]()
Sidik24jam.com | Aceh Tamiang.
Bagi telinga orang luar Aceh, nama Gammawar mungkin terdengar seperti judul film laga atau istilah medis kuno. Tapi jangan salah, di bumi Serambi Mekkah, Gammawar singkatan dari “Gampong Mawaddah Warahmah” adalah Piala Dunianya emak-emak PKK dan perangkat desa.
Ini bukan sekadar perlombaan biasa, ini adalah panggung pertaruhan harga diri, gengsi, dan kekompakan sebuah Kampung (Desa) . Saat ini Kampung Alue Lhok di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, sudah mulai pasang kuda-kuda untuk menyambut Gammawar 2026.
Bukan Sekadar Cat Pagar dan Tumpukan Kertas, Program binaan Tim Penggerak PKK Provinsi Aceh ini sejatinya punya daftar tuntutan yang panjangnya mirip daftar belanjaan bulanan, Mulai dari urusan tertib administrasi, Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI), lingkungan sehat, pemberdayaan ekonomi, penegakan Syariat Islam, sampai isu seksi tingkat nasional.
“penurunan stunting. Penilaian tingkat kabupaten hingga provinsi memang baru akan bergulir sekitar September mendatang. Tapi bagi masyarakat Alue Lhok, menanti September tanpa persiapan itu sama seperti mau hajatan tapi tenda belum dipasang.
Di lapangan, persiapan Gammawar ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mengecat pagar atau mendadak rajin menyapu halaman kantor desa. Ada detak nadi kebersamaan yang perlahan hidup kembali setiap kali warga mulai berkumpul.
Rabu Sibuk, Gombalan Lapangan, dan “Spill” Inovasi.

“suasana Kampung Alue Lhok sudah ramai sejak matahari belum meninggi. Sang Datok Penghulu (Kepala Desa), Jamaluddin, memimpin langsung “pasukan” yang terdiri dari perangkat kampung, tokoh masyarakat, hingga warga yang sukarela membawa senjata andalan masing-masing, parang, cangkul, dan mesin potong rumput.
Saluran air yang tadinya mampet oleh daun kering mulai dilancarkan, rumput liar yang tumbuh tanpa izin dicukur rapi, dan sudut-sudut kampung dipermak sedini mungkin, Rabu (03/06/26).
Terlihat, Aktivitas ini makin meriah dengan hadirnya Pak Camat Karang Baru serta Pendamping Desa yang ikut membaur. Kehadiran Pendamping Desa di tengah gotong royong ini tentu saja membawa atmosfer tersendiri. Di sela-sela keringat yang bercucuran, sebuah celetukan khas meluncur dari salah satu pendamping “Desa aja kami dampingi, apalagi kamu… iya, kamu”…!!
Gombalan receh ala pejuang DRP (Daily Report Pendamping) itu karuan saja disambut tawa renyah warga. Suasana kaku birokrasi langsung mencair, digantikan kehangatan yang biasanya hanya muncul saat menjelang kenduri hari besar.
Datok Penghulu Jamaluddin hanya tersenyum melihat keakraban itu. Menurutnya, gotong royong di Alue Lhok sebenarnya agenda rutin. Hanya saja, aroma kompetisi Gammawar ini diakui berhasil menyuntikkan suplemen semangat ekstra bagi warga. Semua orang mendadak punya ambisi kolektif, ingin menunjukkan bahwa kampung mereka bukan kaleng-kaleng.
Demi memikat hati para juri, Alue Lhok sudah mencicil beberapa “senjata rahasia”. Mulai dari pojok baca yang ramah anak, kebun sehat pertolongan pertama, hingga area swafoto (spot foto) biar gampong mereka tetap eksis di Instagram.
Ketika ditanya apa lagi inovasi lainnya, Jamaluddin memilih main rahasia-rahasiaan. “Biar lebih surprise nanti pas juri datang,” ujarnya sambil terkekeh misterius.
“Esensi di Balik Perlombaan Sebagai pendamping yang kenyang melihat dinamika desa, kita semua tahu, esensi sejati dari sebuah gampong bukan diukur dari seberapa berkilaunya piala yang dipajang di balai desa, atau seberapa tebalnya dokumen laporan di atas meja. Pemenang sejati adalah kampung yang masyarakatnya masih mau saling panggil ketika mufakat dimulai, masih mau mengayunkan cangkul bersama tanpa harus menunggu surat perintah, dan masih punya rasa memiliki terhadap tanah tempat mereka tinggal.
Hari ini Kampung Alue Lhok, kamera handphone mungkin menangkap gambar orang-orang sedang membersihkan parit dan memotong rumput. Tapi jika dilihat lebih dekat, yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah merajut kembali tali silaturahmi yang kadang renggang oleh kesibukan masing-masing.
Ada canda di sela lelah, ada semangat yang menular lewat segelas kopi, dan ada harapan sederhana, Semoga September nanti, Alue Lhok bisa bikin bangga.
Reporter : Kasiani
Editor : Andi.



