![]()
Sidik24jam.com-Aceh Tamiang-Ada hal-hal sederhana di desa yang sering luput dari perhatian. Salah satunya adalah gotong royong.
Di tengah kesibukan masyarakat dengan pekerjaan masing-masing, masih ada warga yang bersedia menyisihkan waktu untuk turun bersama, membersihkan lingkungan, dan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bisa saja dikerjakan sendiri-sendiri.
Pemandangan itu terlihat di Tanjung Neraca, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Datok Penghulu bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat turun langsung melakukan gotong royong membersihkan lingkungan.
Kegiatan berlangsung di sepanjang jalan desa. Rumput dan semak yang tumbuh di sisi jalan dibersihkan agar lingkungan terlihat lebih rapi dan nyaman.
Tidak ada pekerjaan besar dalam kegiatan tersebut. Tidak pula membutuhkan peralatan yang rumit. Hanya warga yang turun ke lapangan, membersihkan lingkungan, dan bekerja bersama.
Namun, justru dari kegiatan sederhana seperti itu terlihat sesuatu yang lebih penting: kepedulian terhadap lingkungan dan rasa memiliki terhadap desa.
Gotong Royong Tak Harus Menunggu Waktu Luang
Datok Penghulu Tanjung Neraca, M. Ramli, mengatakan kegiatan gotong royong tersebut telah berlangsung selama dua hari. Sebelumnya, kegiatan serupa dilakukan di Dusun Matang Rambe.

“Kemarin kita gotong royong di Dusun Matang Rambe, buk, sebentar aja, setengah hari pagi, supaya masyarakat dan perangkat tetap bisa melanjutkan pekerjaan di siang hari,” kata M. Ramli.
Ada pesan sederhana dari cara itu: gotong royong tidak selalu membutuhkan waktu seharian.
Masyarakat tetap harus bekerja. Ada yang ke sawah, ke kebun, berdagang, atau menjalankan pekerjaan lainnya. Karena itu, beberapa jam pada pagi hari pun bisa menjadi cukup ketika ada kemauan untuk mengambil bagian.
Yang terpenting bukan berapa lama bekerja, melainkan kesediaan untuk hadir dan ikut mengerjakan.
Barangkali inilah salah satu alasan mengapa gotong royong masih bertahan di sebagian desa. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kegiatan besar. Kadang cukup beberapa orang berkumpul, membawa alat masing-masing, lalu menyelesaikan pekerjaan yang ada di depan mata.
Desa Tidak Hanya Dibangun dengan Anggaran
Ketika berbicara tentang pembangunan desa, pembicaraan sering berhenti pada anggaran, pembangunan fisik, program pemberdayaan, atau berbagai kegiatan yang tercatat dalam dokumen.
Semua itu penting.
Tetapi desa tidak hanya dibangun dengan anggaran.
Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan hasil pembangunan yang mereka gunakan bersama.
Jalan yang dibersihkan bersama, misalnya, bukan sekadar membuat lingkungan terlihat lebih rapi. Ada kesadaran bahwa ruang publik merupakan bagian dari kehidupan bersama dan karenanya perlu dijaga bersama pula.
Di titik inilah gotong royong menjadi lebih dari sekadar kegiatan membersihkan lingkungan.
Ia merupakan modal sosial.
Modal sosial memang tidak tercantum dalam papan informasi pembangunan. Tidak pula mudah dihitung dengan angka. Tetapi keberadaannya dapat dirasakan ketika warga masih bersedia berkumpul, bekerja bersama, dan mengambil bagian dalam urusan kampung.
Ketika perangkat desa ikut turun ke lapangan dan tokoh masyarakat berada di tengah warga, batas antara siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah menjadi lebih cair.
Semua berada dalam satu pekerjaan yang sama.
Dari Membersihkan Jalan hingga Menanam Sereh
Gotong royong di Tanjung Neraca tidak berhenti pada membersihkan rumput dan semak.
M. Ramli mengatakan ada rencana untuk menanam sereh di sepanjang sisi jalan yang telah dibersihkan.
Rencana tersebut sederhana, tetapi menarik. Sebab membersihkan lingkungan hanya merupakan langkah awal. Lingkungan yang sudah rapi tetap membutuhkan perawatan agar tidak kembali seperti sebelumnya.
Jika penanaman sereh itu benar-benar dilakukan dan dirawat secara bersama, kegiatan gotong royong tidak berhenti sebagai agenda menjelang peringatan kemerdekaan.
Ada keberlanjutan yang ingin dibangun.
Tentu saja, menanam tidak cukup. Tanaman perlu dirawat. Pemanfaatannya juga perlu dipikirkan. Karena itu, gagasan tersebut masih membutuhkan proses dan pengelolaan.
Namun, setidaknya ada upaya untuk mengubah kegiatan sesaat menjadi sesuatu yang bisa memberikan manfaat lebih panjang.
Di sinilah gotong royong menemukan maknanya yang lain: bukan hanya bekerja bersama, tetapi juga menjaga hasil pekerjaan bersama.
Kemerdekaan dan Tradisi yang Perlu Dirawat
Peringatan kemerdekaan biasanya identik dengan upacara, pemasangan bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan masyarakat.
Semua itu merupakan bagian dari cara masyarakat merayakan kemerdekaan.
Tetapi membersihkan lingkungan dan menjaga kebersamaan juga merupakan bentuk lain dari merawat semangat tersebut.
Apa yang dilakukan masyarakat Tanjung Neraca mungkin tidak akan menjadi berita besar. Tidak ada panggung besar, tidak ada peralatan canggih, dan tidak ada anggaran besar yang perlu dipamerkan.
Hanya jalan desa yang dibersihkan.
Tetapi justru dari kegiatan seperti itu kita dapat melihat bagaimana sebuah desa bekerja.
Sebab desa bukan hanya tentang kantor pemerintahan, pembangunan jalan, atau besarnya anggaran yang dikelola. Desa juga tentang hubungan antarmasyarakat dan kebiasaan mereka dalam menyelesaikan persoalan bersama.
Pembangunan yang baik tentu membutuhkan anggaran. Tetapi keberlanjutan pembangunan membutuhkan rasa memiliki.
Tanpa rasa memiliki, fasilitas yang dibangun akan mudah rusak dan lingkungan yang sudah dibersihkan akan kembali kotor. Sebaliknya, ketika masyarakat merasa ikut memiliki, hal-hal sederhana pun bisa dirawat bersama.
Karena itu, gotong royong layak dipertahankan bukan sekadar sebagai tradisi menjelang 17 Agustus.
Ia perlu tetap hidup dalam berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Tanjung Neraca hari ini mungkin hanya sedang membersihkan jalan.
Namun dari jalan yang dibersihkan itu kita bisa melihat sesuatu yang lebih besar: masih ada masyarakat yang bersedia meluangkan waktu untuk bekerja bersama.
Di tengah kehidupan yang semakin individual, hal semacam itu bukan sesuatu yang sepele.
Sebab salah satu tanda sebuah desa masih memiliki kekuatan bukan hanya terlihat dari apa yang berhasil dibangunnya, tetapi juga dari apakah masyarakatnya masih mau menjaga dan mengerjakannya bersama.
Dan selama gotong royong masih hidup, desa masih memiliki satu modal penting yang tidak bisa dibeli dengan anggaran: rasa memiliki. ( KS)




